Dipinjam DKI Ikut PON Riau, Atlet Layar Tidak Dapat Bonus


Laporan Tribunnews Batam, Aprizal

TRIBUNNEWSBATAM, BATAM – Atlet layar asal Batam, Bayu Fienandra (14) asal Kepri yang dipinjamkan ke DKI Jakarta kecewa. Tekadnya memperkuat dan mempersembahkan medali hanya dihargai Rp 1 juta.

Atlet dari Club Citra Mas II, ini ketika itu mewakili DKI Jakarta saat lomba layar pada Pekan Olah Raga Nasional (PON) XVIII tahun 2012 di Bengkalis, Provinsi Riau.

Bayu mengaku hanya dapat ucapan selamat dari Gubernur Fauzi Bowo yang kala itu masih menjabat sebagai Gubernur DKI. Bayu mempersembahkan medali perunggu.

Siswa SMP 8 Kapling Nongsa pada saat itu berangkat dari Batam ke Bengkalis. Di Bengkalis ia sempat naik ojek ke hotel tempat menginap. Namun hingga kini bonus yang ia impikan tak kunjung cair.

Bayu menceritakan, awal dirinya dipinjamkan ke DKI untuk mengikuti PON di Bengkalis, Riau, jelasnya, berawal dari Kejurnas Kualifikasi PON XVII pada 12-13 Desember 2011 di Balonggan, Indramayu.

Saat itu, katanya, tanpa penjelasan dari sang pelatih di klubnya Citra Mas II, Weng Samsi, ia dibawa ke Jakarta. Selama satu minggu menggikuti Pra PON membawa nama DKI di Balonggan, anehnya nama Bayu diganti dengan nama Prasetia oleh pelatih sampan layar DKI.

“PraPON yang saya ikuti di Balonggan itu, enam bulan sebelum PON Riau. setelah PraPON di Balonggan itu, saya dikembalikan ke Batam. Beberapa hari sebelum PON, pelatih saya (Weng-red) menemui orang tua saya. Katanya saya akan membawa nama DKI dalam PON Riau, Pak Weng membicarakan masalah itu melalui telepon dengan pelatih layar DKI di depan kedua orang tua saya. Dari pembicaraan melalui telepon itu saja lah saya sampai berangkat ke Bengkalis, setelah persetujuan orang tua saya,” ujar Bayu kepada Tribun saat ditemui di daerah Bontania, Batam Centre.

Tidak sampai satu minggu sebelum bertanding di Bengkalis, kata Bayu, ia dikirimkan uang Rp 1 juta oleh Edi Sulistianto selaku pelatih layar kontingen DKI. Namun uang tersebut dikirimkan melalui Budi, selaku asisten pelatihnya, Aweng.

Dengan uang Rp 1 juta tersebutlah ia dibelikan tiket kapal Ferry untuk berangkat ke Bengkalis seorang diri.

“Jam 6 pagi saya berangkat dari Batam melalui pelabuhan Sekupang, sampai pukul 14.oo WIB di Bengkalis. Dari pelabuhan di Bengkalis itu, saya naik ojek ke Hotel Marina tempat kontinggan atlet-atlet DKI. Sampai ke Hotel Marina itu, hanya melalui telepon saya diarahkan oleh pelatih sampan layar DKI . Sampai di Hotel itu, saya dijemput oleh istri pak Edi ke Lobby Hotel,” ungkap Bayu.

“Sebelum penutupan PON, saya bersama beberapa atlet DKI sudah dibawa ke Jakarta. Selama satu minggu di Jakarta, salama itu saya ditampung di rumah pak Edi. Baru tanggal 23 September saya dikembalikan ke Batam, itu pun saya diantarkan sampai depan Bandara Soekarno Hatta oleh pelatih sampan layar DKI (Edi-red). Saya pulang ke Batam sendiri lagi, waktu itu hanya di kasih uang Rp 1 juta. Sampai sekarang saya tidak pernah menerima bonus atas prestasi yang diraih. Saya pernah telepon dan BBM pak Edi, katanya nama saya pada PON Riau itu tidak terdaftar. Katanya sabar, tunggu saja PON tahun depan lagi,” ungkap Bayu.

Bahkan saat mengikutin PON Riau, kata Bayu, bet yang digunakannya bukan atas nama aslinya. Nama yang tertulis di bet yang digunakannya atas nama Prasetio Bayu Nugroho. Namun anehnya, pada piagam penghargaan atas pretasinya setelah meraih medali perunggu tersebut, tertulis nama aslinya, Bayu Fienandra.

Atas kejadian yang dialami Bayu, Oman S, selaku paman kandungnya mengaku geram dengan pertangung jawaban PB Koni DKI dan pelatih ponakannya itu di Batam.

“Keponakan saya ini benar-benar tidak dihargai, bahkan terkesan diperjual belikan. Jangankan bonus yang diterima setelah memperoleh medali perunggu, ponakan saya dibiarkan bolak-balik sendiri Batam-Jakarta, Batam-Bengkalis tanpa didampinggi. Perjanjian awal Ponakan saya ini dipinjamkan ke DKI, Pelatihnya di Batam dan pelatih sampan Layar DKI. Tidak mungkin tidak ada kesepakatan kalau ponakan saya ini berhasil memperoleh medali,” ungkap Oman.

Omon menceritakan, bayu juga ponakan kandung dari dua atlet Kepri yang memperoleh medali emas dalam cabang sampan layar tersebut, yakni Masnun dan Marianti. Kedua ponakannya tersebut memperoleh bunus dari pemerintah Provinsi Kepri dengan masing-masing Rp 200 juta.


Leave a comment

Your email address will not be published.

*