info berita Lekop


achmad husry

achmad husry

Akali dengan Prioritas Cabor Potensial OLAHRAGA | Kamis, 14 Agustus 2014 | dibaca: 267 kali SAMARINDA – Hanya Rp 25 miliar yang didapat KONI Kaltim dari APBD 2015. Jumlah tersebut terbilang jauh lebih kecil dari yang mereka usulkan sebelumnya, yakni senilai Rp 144 miliar. Dengan kondisi demikian, Benua Etam bakal kesulitan tampil maksimal saat mengikuti Pra-PON tahun depan. Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Kaltim yakin, KONI Kaltim masih bisa memaksimalkan jumlah nomor tanding yang diikuti pada PON tersebut. “Hanya memang harus diakali dengan cermat, bagaimana caranya anggaran tersebut bisa dimanfaatkan untuk tetap mendapat hasil maksimal,” ujar Penasihat LeKOP Achmad Husry. Menurut Husry, dana minim itu memang menjadi tantangan berat bagi KONI Kaltim. Hanya bukan berarti kondisi demikian, membuat petinggi KONI Kaltim harus menyerah untuk mewujudkan target mempertahankan 5 Besar pada PON XIX 2016 Jawa Barat. “Dalam kondisi demikian, maka skala prioritas bisa diterapkan dengan mengutamakan cabor potensial emas, demi menjaga peluang posisi 5 besar tersebut,” jelas Husry. Minimnya anggaran diperoleh KONI Kaltim untuk anggaran 2015, menurut Husry, ada beberapa prosedur yang dilewatkan dalam proses pengusulan anggaran. “Ya, karena sejak awal anggaran untuk sektor pembangunan pemuda hanya Rp 90 miliar. Sedangkan setelahnya baru muncul nominal tersebut. Kemungkinan, ada keterlambatan mereka dalam mengusulkan anggaran tersebut,” ungkap Husry. Meski demikian, KONI Kaltim masih punya kesempatan menambah pundi dana tersebut pada APBD-Perubahan 2015 serta APBD 2016. “Untuk selanjutnya, komunikasi bisa lebih diperketat, mengingat dalam penentuan anggaran tersebut, kini tidak bisa langsung dari KONI Kaltim ke gubernur. Karena, gubernur punya perpanjangan tangannya yang menangani olahraga, yakni Dispora Kaltim,” timpal Husry. Sementara itu Ketua LeKOP Kaltim Sabran Malisi sepakat, bahwa KONI Kaltim dipastikan kesulitan memenuhi target 5 Besar di PON maupun meloloskan atlet sebanyak-banyak pada Pra-PON. “Setelah diusulkan, mencuat nominal sebesar Rp 121 miliar. Jumlah ini murni untuk kebutuhan atlet, belum termasuk kebutuhan pengurus dalam menjalankan programnya,” tambah Sabran. (*/ndy/is/k15)


Leave a comment

Your email address will not be published.

*