“Kolam Renang Palaran Isinya Tikus Saja” Seminar Sehari Olahraga di Lamin Etam


“Kolam Renang Palaran Isinya Tikus Saja”
Seminar Sehari Olahraga di Lamin Etam

Minggu, 9 Juni 2013 – 13:46:44

DISKUSI : Awang Faroek (kiri) yakin sarana jadi bagian penting pembinaan atlet. Sementara Achmad Husry memberikan gambaran pendanaan yang harus ditebus.

SAMARINDA – Berambisi meraih prestasi dalam Pekan Olahraga Nasional (PON), tentu butuh kerja keras, apalagi bila dipersiapkan dalam waktu singkat. Tiga tahun jelang pesta olahraga akbar Indonesia ini, Kaltim kembali berhasrat meningkatkan capaian di Riau setahun silam. Namun, butuh dana besar, hingga Rp 250 miliar.

Ini terungkap dalam seminar sehari olahraga garapan Kaltim Post-SIWO PWI Kaltim dan Dewan Pelatih Olahraga Kaltim (DPOK) Sabtu (8/6) kemarin di Lamin Etam, Samarinda. Acara ini menghadirkan beberapa narasumber berkompeten, seperti Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, Wakil Ketua III KONI Kaltim Zuhdi Yahya, Sekretaris Umum Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) Kaltim Sofyan Masykur, dan pengamat olahraga Achmad Husry.

Seminar tersebut membahas banyak aspek yang berkaitan dengan peningkatan prestasi para atlet dan pelatih menjelang pelaksanaan PON XIX/Jabar 2016 mendatang. Dimulai sejak pukul 13.00 Wita, kegiatan ini dihadiri 200-an orang yang berasal dari seluruh lapisan insan olahraga Kaltim. Seminar ini dimoderatori Pemimpin Redaksi Kaltim Post di Samarinda, Rizal Juraid.

Masing-masing narasumber mendapatkan kesempatan 10 menit membeberkan materi. Awang Faroek mendapatkan giliran pertama. Banyak hal yang dituturkan orang nomor satu di Kaltim ini. Salah satunya, sarana pra sarana harus dilengkapi. “Sarana itu sangat penting. bersama pengurus yang aktif, tentu akan sangat membantu peningkatan kualitas para atlet selanjutnya,” terang Faroek.

Untuk fasilitas, Kaltim tidak khawatir. Pernah menjadi host PON 2008, begitu banyak venue yang siap pakai. Hanya, tinggal perawatan yang menjadi kendalanya. “Bahkan kolam renang yang berada di Palaran, isinya hanya tikus saja. Seharusnya itu bisa dimanfaatkan oleh PRSI (Persatuan Renang Seluruh Indonesia) Kaltim agar bisa menunjang atletnya,” terang pria berambut putih ini.

Bahkan, menurutnya, bila perlu Kaltim mendatangkan pelatih bersertifikat nasional untuk menunjang sarana yang dimiliki Kaltim untuk memenuhi kebutuhan meningkatkan prestasi para atletnya. “Targetnya, kita harus bisa menyediakan pelatih yang berkualitas sebagai penunjangnya. Seminar ini sebagai pemicu saja agar selanjutnya pengprov bisa mengevaluasi diri agar tampil lebih baik,” terangnya.

Sementara, Wakil Ketua III KONI Kaltim Zuhdi Yahya membeberkan kiat sukses Kaltim membina atlet. Menurutnya, ada beberapa tahapan yang diketahuinya berdasarkan pengalaman selama tiga periode berkutat di KONI Kaltim. “Program menjadi salah satunya. Kalau program bisa tersusun dengan baik, dilanjutkan dengan dukungan dari sarana prasarana penunjang latihan yang disokong erat oleh pendanaan yang baik, semua bisa tercapai,” terang Zuhdi.

Selain itu, menurutnya, pemberian reward kepada atlet yang berprestasi serta menciptakan suasana yang positif diyakini Zuhdi juga menjadi kunci sukses. Di lain sisi, Sofyan Masykur yang mendapatkan kesempatan ketiga mengisi materi, mengatakan kesejahteraan atlet dan pelatih menjadi sebuah bagian penting dalam meningkatkan prestasi. “Tidak instan bagi para atlet untuk menyumbangkan prestasi gemilangnya.

Butuh proses lama agar mereka bisa matang dan pantas untuk meraih yang terbaik dalam bidangnya,” ujar Sofyan. Sejalan dengan apa yang dikatakan Zuhdi, pemberian reward kepada atlet yang berprestasi menjadi stimulan bagi para atlet untuk meningkatkan prestasinya. “Tetapi bukan berarti bonus menjadi yang utama, karena masih banyak juga yang bergelut di dunia olahraga semata-mata ingin memberikan sumbangsih yang nyata, yakni prestasi,” ucap Sofyan.

Selain itu juga dia mengatakan nasionalisme tidak bisa dinilai kadar materi. “Walaupun kita tidak bisa mengesampingkan ekonomi sebagai aspek penting dalam kehidupan seorang atlet,” tuturnya. Sementara, sebuah pernyataan menarik terlontar saat Achmad Husry mendapatkan kesempatan untuk membeberkan masalah regulasi olahraga. Dia menyebut, agar bisa menempati tiga besar pada PON XIX di Bandung Jawa Barat, Pemprov mesti menyiapkan dana Rp 250 miliar untuk pembinaan. “Hal ini masih dalam kalkulasi cepat,” tambahnya.

Dia juga menyebut, angka produksi medali emas pada setiap PON semakin tinggi. Pada PON XV di Jawa Timur, Kaltim meraih 18 emas dengan alokasi dana sekitar Rp 12 miliar. Jadi untuk mendapatkan satu medali emas Kaltim mesti mengeluarkan dana sekitar Rp 400 juta. Angka itu meningkat pada PON XVI di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel). Kaltim meraih 19 emas dari dana pembinaan atlet yang dikeluarkan sekitar Rp 33 miliar.

Pada PON di Sumsel ini, menurutnya setiap satu medali emas membutuhkan dana Rp 1,7 miliar. Begitu juga pada saat Kaltim menempati peringkat tiga pada PON XVII Kaltim pada 2008 lalu. Untuk satu medali emas, Kaltim harus mengeluarkan dana pembinaan Rp 1,8 miliar. Dia juga menyinggung masalah penggelontoran dana untuk Pengurus Cabang (Pengcab). Semestinya, kata dia, yang harus diberi dana tersebut adalah para atlet. “Bagaimana mau berprestasi jika yang diberi bantuan adalah pengcab,” ujarnya.

Satu hal lagi, dana tersebut jangan semata-mata untuk bonus atlet yang berprestasi. Memang bonus bisa menjadi motivasi bagi atlet. “Tapi alangkah baiknya, jika juga menyorot pada masalah pembinaan atlet tersebut,” ucap Achmad. Prestasi Benua Etam memang cukup membanggakan mulai PON XVII/2008 di Kaltim.

Termasuk kembali mengukir prestasi hebat pada PON XVIII/2012 di Riau, yakni berhasil menduduki peringkat lima besar atau mampu “mengkudeta” posisi yang ditargetkan tuan rumah Riau, dengan raihan 44 medali emas. Dalam kegiatan ini, satu narasumber tak hadir, yakni Mukmin Faisjal HP, ketua DPRD Kaltim non-aktif. Alasan, karena keperluan yang tidak bisa ditinggal.(*/fch*/ndy/che/k1)


Leave a comment

Your email address will not be published.

*