Sesuaikan Kondisi, Fisik Didahulukan


*SAMARINDA* – Tes fisik atlet Desentralisasi Mandiri garapan KONI Kaltim di Stadion Madya Sempaja Samarinda memasuki hari kedua, Rabu (29/4) kemarin. Pada sesi tersebut, giliran puluhan atlet dari kelompok cabang olahraga (cabor) terukur dan permainan yang diuji. Sehari sebelumnya, cabor bela diri dan beregu yang melaksanakan kegiatan serupa. Hanya, nada tanya mulai muncul seiring tuntasnya pelaksanaan kegiatan tersebut. Lembaga Kajian Olahraga Prestasi (LeKOP) Kaltim menilai, kegiatan tersebut sejatinya dilaksanakan setelah para atlet terlebih dulu diuji melalui tes kesehatan. “Sedianya, sebelum tes fisik dilaksanakan, terlebih dulu ada tes kesehatan untuk memantau kesiapan atlet sebelum mengikuti kegiatan tes fisik,” jelas M Saleh Basire, anggota LeKOP Kaltim, kemarin (29/4). Menurut Saleh, menjadi penting mengingat sebagai langkah antisipasi awal jika ternyata ada atlet yang tidak dalam kondisi siap menjalani tes fisik. Selain itu, baru dilaksanakan setelah hampir setahun para atlet menjalani kegiatan tersebut, dinilainya kurang efektif, mengingat prosedur penilaian fisik atlet harus dilaksanakan sebelum program desentralisasi mandiri dijalankan. “Jadi sebelum tiba waktu pelaksanaan Pra-PON, ada dua kali pelaksanaan tes fisik. Perbandingan antara hasil pada kedua tes bisa menjadi indikator perkembangan atlet selama Desentralisasi Mandiri,” tuturnya. Hal tersebut diamini konsultan teknik olahraga Kaltim Paulus Levinus Pasurney. Dirinya mengakui bahwa ada prosedur yang tertukar antara pelaksanaan tes kesehatan dan tes fisik. “Hanya memang kondisinya tidak memungkinkan, seperti waktunya yang terbatas, sehingga pilihannya, tes fisik didahulukan. Namun, tetap para atlet tetap diwajibkan mengikuti tes kesehatan,” tutur Paulus. Dirinya sekaligus menjelaskan mengenai standar kualifikasi tes yang dilalui oleh atlet di setiap cabor. Terdapat perbedaan klasifikasi tes fisik kepada sejumlah cabor yang tidak mengutamakan fisik secara keseluruhan. “Seperti menembak atau panahan, untuk apa kecepatan lari? Begitu juga dengan bridge dan catur. Berbeda dengan basket yang sangat memerlukan *agility*,” tutur Paulus. Itu pula yang membuatnya menjelaskan, terdapat perbedaan jumlah aspek yang harus dilalui para atlet selama menjalani tes fisik. Dirinya memaparkan, atlet di kelompok cabor terukur, bela diri, dan permainan tetap menjalani delapan aspeknya, seperti *shuttle run, sit up, push up, balke, sprint* 20 meter, *sprint* 300 meter, *vertical jump,* dan fleksibilitas. “Sedangkan cabor seperti bridge dan catur, hanya empat item. Terpenting mereka bugar dan sehat dulu untuk bisa mengikuti tes fisik,” jelasnya. *(*/ndy/is/k18)Kaltim Post – 30 April 2015http://smd.kpfm.co.id/berita/detail/223240-sesuaikan-kondisi-fisik-didahulukan.html *


Leave a comment

Your email address will not be published.

*