
Rabu, 06 Juni 2012 , 08:49:00
Bonus Saru, Ancam Boikot
Minta Kaji Ulang Program Bapak Angkat
MASIH GALAU: Atlet dan pelatih mencari kejelasan mengenai bonus yang mereka terima di PON Riau. Mereka menggelar aksi di Karang Paci, kemarin.
SAMARINDA – Atlet dan pelatih Kaltim yang dipersiapkan untuk Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII/Riau 2012 mengancam boikot. Itu dilakukan jika masalah bonus belum menemui kejelasan.
Kemarin siang, atlet dan pelatih yang Mengatasnamakan Forum Persatuan Atlet dan Pelatih Kaltim Bersatu (FPAPKB) mendatangi Gedung DPRD Kaltim di Karang Paci, Samarinda, untuk menyampaikan kegelisahan yang mereka rasakan saat ini.
Tiga bulan lagi PON XVIII dihelat, masalah bonus terutama besaran yang diterima atlet dan pelatih yang berprestasi di event olahraga nasional empat tahunan itu masih saru.
“Teman- teman inisiatif dan kompak semua, jika masalah bonus tidak jelas, kami boikot dan tegas tidak berangkat untuk PON nanti,” ucap Muslimin, sekretaris FPAPKB. FPAPKB berharap, DPRD Kaltim bisa merealisasikan tuntunan yang mereka minta. (item tuntutan lihat grafis)
Dalam PON Riau, kata dia, untuk mencapai target tiga besar setidaknya atlet Kaltim harus mendulang 73 medali emas. Perlu peluhdan kerja ekstra keras. Sayangnya, untuk try out saja, atlet minim dana. “Kami ini juara, tapi kenapa harus mengemis-ngemis lagi,” terangnya. Pada kesempatan itu, dia juga meminta kejelasan posisi bapak angkat.
“Masalah bapak angkat ini harusnya persoalan penting. Selama ini, belum ada realisasi dan kontribusi nyata dari bapak angkat. Kalau terus-terusan begini, kami meminta Gubernur lewat DPR Kaltim untuk mem-blacklits mereka,” lanjutnya, menegaskan.
FPAPKB saat itu diterima Wakil Ketua DPRDHadi Mulyadi dan beberapa anggota Komisi IV DPR Kaltim. Lewat pertemuan singkat, Hadi menegaskan jika DPRD Kaltim siap memperjuangkan aspirasi atlet dan pelatih.
Ketua Komisi II DPRD Kaltim Rusman Yakub mengatakan, harus ada mekanisme ulang tentang program bapak angkat. Melihat kondisi sekarang, tidak ada dasar hukum yang bisa menekan tanggung jawab bapak angkat.
Legislator yang juga Ketua Pengprov Persatuan Boling Indonesia (PBI) Kaltim merasa, program bapak angkat belum memberi kontribusi nyata.
“Saya sampai saat ini belum pernah bertemu dengan bapak angkat (cabor boling,Red),” ucapnya. Dia mengaku telah mencoba berkomunikasi dengan bapak angkat yang dimaksud, tapi tak ada respons yang berarti. Malah Rusman mengaku pesimistis dengan ketiga bapak angkat cabor yang dipimpinnya. Tak hanya boling, sebagian besar cabor juga merasakan hal serupa.
Informasi yang dihimpun media ini, pada APBDmurnitahun ini, usulan dana untuk atlet diajukan Rp 205 miliar, hanya disetujui Rp 80 miliar. Atletberharap di APBD Perubahan sisa usulan bisa didapat. (*/her/er/far)